Kamis, 07 Februari 2013

Resume TIK



Resume Teknologi Komunikasi dan
 Informasi Dalam Pendidikan



 

Oleh :

Sitti Supiyati
7516120282




PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012



1.           PERGESERAN PARADIGMA PENDIDIKAN
Pendidikan Bukan hanya sebatas pemahaman singkat terhadap sesuatu, tapi lebih merupakan proses penguasaan ilmu pengetahuan yang fungsional berdasarkan kerangka fikir ilmia. Pergeseran paradigma pendidikan ditandai dengan perubahan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kurikulum, Pendekatan Pembelajaran dari Teacher Center Learning (TCL) ke Student Center Learning (SCL), Strategi Pembelajaran.
Perubahan kurikulum dari Kurikulum Nasional 1994 (yang berorientasi pada penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai target kurikulum program studinya, dan penilaian oleh perguruan tinggi sendiri) ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (yang berorientasi pada pengusaan kompetensi di bidang pekerrjaan tertentu sesuai dengan kurikulum bidang studinya, dan penilaian oleh masyarakat pengguna lulusan) diharapkan dapat memberikan perubahan ke arah yang positif dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, dunia kerja, profesional (sesuai dengan bidang ahlinya) dan generasi masa depan yang lebih baik.
Ciri-ciri Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK):
1.    Menyatakan secara jelas bahwa KOMPETENSI sebagai keluaran proses pembelajaran .
2.    Materi ajar dan proses pembelajaran didesain berorientasi pada pencapaian kompetensi dan berfokus pada minat peserta didik.
3.    Penilaian hasil belajar ditekankan pada kemam-puan unjuk kerja (melakukan sesuatu).
4.    Disusun oleh penyelenggara dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap lulusan.
5.    Merupakan INTEGRASI dari penguasaan ranah kognitif, psikomotorik dan afektif.
Kompetensi dalam tujuan pendidikan saat ini hanya difokuskan pada satu domain saja, yaitu domain kognitif, sedangkan domain afektif dan psikomotorik hanya beberapa persen saja. Maka, perlu dilakukannya beberapa perubahan, agar ketiga domain dapat terpenuhi dengan seimbang. Salah satunya dengan diadakannya pergeseran pendekatan dalam pembelajaran dari TCL ke SCL.
Ciri-Ciri Pembelajaran SCL(Student Centre Learning)
Ø  Guru/ Dosen dan peserta didik  secara aktif bersama sama membangun pengetahuan
Ø  Guru/Dosen lebih berperan sebagai fasilitator yang membimbing  peserta didik  belajar dari pada  pemberi informasi 
Ø  Belajar bukan hanya penguasaan materi per-kuliahan tetapi juga diarahkan pada pengem-bangan karakter  mahasiswa agar  menjadi pebelajar sepanjang hayat.
Ø  Belajar dan evaluasi dilakukan secara berta-hap dan terintegrasi (Pendekatan Proses)
Ø  Belajar merupakan proses  pengembangan pengetahuan. Jawaban salah terhadap suatu pertanyaan dianggap bagian dari belajar 
Ø  Proses belajar lebih kolaboratif & kooperatif
Ø  Belajar dapat dilakukan dimana & kapanpun
Ø  Belajar diarahkan pada pencapaian kompe-tensi mahasiswa melalui proses, penemuan  dan pemecahan masalah
Ø  Belajar diarahkan pada  pembelajaran ber-basis aneka sumber belajar
Ø  Proses pembelajaran cenderung mengguna-kan pendekatan interdisiplin
Ø  Proses pembelajaran difasilitasi mengguna-kan multimedia / TIK.



Peranan Guru Dan Dosen
v  Merumuskan tujuan/kompetensi pembelajaran
v  Menyediakan dan  memberikan  pengalaman belajar sesuai  dengan  tuntutan kompetensi
v  Menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan
v  Mengecek perkembangan belajar peserta didik secara pribadi
v  Mendorong pesert berfikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah
v  Menjelaskan tentang norma, aturan, standar, sistem nilai, dan etika  yang berkaitan dengan mata pelajaran/kuliah.  
Perubahan Standar Kompetesi Lulusan (SKL) mengakibatkan perubahan strategi pembelajaran sesuai dengan SK Mendiknas No. 045/U/2002. Strategi pembelajaran yang digunakan pada harus lebih menyenangkan, bermakna, memberdayakan aneka sumber dan berorientasi pada T.I. agar hasil dari pembelajaran akan menjadi lebih baik dan memenuhi semua aspek dari tujuan pembelajaran itu sendiri.

2.           PEMBELAJARAN BERBASIS TIK
Pembelajaran berbasis TIK adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mengoptimalkan penggunaan  teknologi informasi dan komunikasi sebagai sumber belajar dan sebagai medium penyampaian pesan dalam pembelajaran.
Perkembangan pembelajaran berbasis TIK diawali dari oral, lambang dan bunyi-bunyian, kemudian beralih ke cetak, audio dan visual, kemudian menjadi audio-visual, interaktif, multimedia, dan jaringan yang berbasis TIK. TIK memicu lahirnya berbagai model pembelajaran yang berbasis komputer. Computer Based Instruction ditandai dengan perubahan TCL ke SCL, dengan Computer Based Instruction pembelajaran menjadi lebih menarik, variatif, efektif, dan efisien. Computer Based Instruction terdiri dari dua pembelajaran, yaitu pembelajaran off-line dan pembelajaran on-line. Pembelajaran off-line yaitu Computer Based Learning, sedangkan pembelajaran on-line yaitu On-line Learning(Web Based Learning), E-Learning(Technologi Based Learning), dan Distance Learning(integreted System)
TIK sebagai sumber belajar
q    Menjawab Kebutuhan Informasi
1.    Mengintegrasikan TIK sebagai sumber  belajar
2.    Memastikan alamat-alamat situs yang akan dikunjungi
3.    Mengembangkan LKS berbasis PBK
4.    Membuat lembar refleksi diri
q    Layanan Yang Cepat dan Murah
1.    Meninggalkan kebiasaan satu sumber belajar
2.    Menggunakan ANEKA sumber belajar    
3.    Mengefektifkan penggunaan internet 
q    Informasi Terkini
1.    Cepat, terkoneksi ke semua sistem jaringan perpustakaan
2.    Terkini, informasi secara teratur diperbaharui
Tujuan utamnya agar pesan yang disampaikan mudah dimengerti oleh peserta didik. Tujuan khususnya memberikan pengalaman belajar yang berbeda, menumbuhkan sikap keterampilan berbasis T.I., menciptakan situasi belajar menyenangkan, menjadikan belajar lebih menarik, variatif, efektif, dan efisien.
Penggunaan TIK dalam pembelajaran pun memiliki beberapa kendala, yaitu, kesulitan dalam pengembangan program, infrastruktur yang belum memadai, SDM yang terbatas, gagap teknologi, kultur belajar yang sulit berubah, dan luasnya wilayah jangkauan dan belum meratanya kualitas penerimaan pesan.
3.           MODEL TEACHING AIDS PAUD BERBASIS TIK
A.   Pengertian Media
Menurut AECT media adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menyalurkan pesan atau informasi. Sedangkan menurut Anderson media adalah perlengkapan yang digunakan untuk menyalurkan pesan dan memungkinkan terjadinya interaksi antara siswa dan pesan.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan media adalah suatu perlengkapan yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menyalurkan pesan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antara siswa dengan pesan.Penggunaan media dalam pembelajaran dapat meningkatkan daya ingat.
Selain itu, manfaat dari media pembelajaran yaitu menyederhanakan pesan, mengurangi verbalitis, menyamakan persepsi, menarik perhatian, menghemat waktu, dll.
Komunikasi Verbal daya ingatnya dalam 3 jam 70% dan # hari 10%, visual daya ingatnya 3 jam 72% dan 3 Hari 20 %, verbal+visual daya ingatnya 3 jam 85% Dan 3 hari 65%.
B.   Kriteria Media Pembelajaran
1)    Kesederhanaan
Penggunaan 1 slide untuk 1 konsep, rumus 6 x 6 untuk tulisan, huruf yang digunakan mudah dibaca, visual untuk pesan yang kompleks.
2)    Keutuhan
Keutuhan adalah keharmonisan dalam kesatuan pesan.
3)    Keseimbangan
Keseimbangan yang dimaksudkan adalah keserasian tata letak desain pesan pada bidang slide atau transparasi.
4)    Ketegasan
Teknik memberi penekanan pada bagian yang penting dengan memberi warna yang berbeda, garis bawah, perbesar tulisan ataupun arsiran.

C.   Klasifikasi Media
1)    Alat Bantu (Teaching AIDS)
Penggunaan lingkungan, benda sebenarnya, gambar, foto, nara sumber, taktil, model, dll.
2)    Media Pembelajaran
Penggunaan modul, program audio, program video, CAI, multimedia, dll.

D.   Klasifikasi Tecahing AIDS
1)    By Utilization (lingkungan, benda sebenarnya, nara sumber, fenomena alam, dll.).
2)    By Design (gambar, foto, slide, model, taktil, benda-benda rekayasa, komponen grafis, dll.).

E.   Prinsip Pemanfaatan Teaching AIDS PAUD
1)    Menyenangkan
2)    Bagian dari bermain
3)    Bermakna
4)    Melibatkan Multiple Intelegency
5)    Guru harus kreatif
6)    Mengoptimalkan “Teaching AIDS” by utilization dan by design
7)    Dirancang dnegan baik, namun bersifat fleksibel.

Penggunaan Model Teaching AIDS merupakan salah satu upaya kreatif guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran PAUD dengan cara-cara menyenangkan.

F.    Prosedur Pemanfaatan Teaching AIDS dalam PAUD (Untuk Satu Tema Pembelajaran)

4.           DISTANCE EDUCATION
Distance Education atau Pendidikan Jarak Jauh adalah jenis pendidikan dimana peserta didik berjarak jauh jauh dari dari pendidik, sehingga pendidikan tidak dilakukan dengan cara tatap muka. Maka penyajian materi pembelajaran kepada peserta didik harus melalui media.
Pembelajaran yang digunakan pada Distance Education adalah Computer Based Learning, seperti On-line Learning, E-Learning, Distance Learning.

A.   On-Line Learning (Web Based Learning)
Yaitu pemanfaatan internet sebagai sumber belajar/informasi. Dalam Distance Education digunakan untuk melengkapi tugas terstruktur, pengayaan materi, referensi penunjang.
Keuntungan pemanfaatan WBL, yaitu mengatasi keterbatasan sumber belajar, memiliki jangkauan yang luas dan memberikan pelayanan yang cepat dan efisien.
Implikasi pemanfaatan WBL yaitu untuk memperbaiki infrastruktur lembaga pengguna (sarana-prasarana dan SDM) dan sosialisai & pembimbingan yang intensis ke semua siswa.

B.   E-Learning (Techologi Based Learning)
Yaitu pemanfaatan Teknologi Elektronik sebagai media pembelajaran. E-learning pada Distance Learning merupakan bagian integral dari materi pembelajaran, pengayaan materi pembelajaran.
Keuntungan penggunaan E-Learning yaitu mengatasi keterbatasan SDM, meningkatkan efisensi, pembelajaran menjadi lebih variatif dan inovatif.
Implikasi penggunaan E-Learning yaitu dalam pengembangan sistem pembelajaran ke E-Learning, tersedianya sistem jaringan yang memadai, dan penggunaan kualifikasi SDM.

C.   Distance Learning (Integreted System)
Yaitu pemanfaatan teknologi elektronik dan jaringan sebagai sistem pembelajaran. Digunakan dalam sistem pembelajaran yang menggunakan panduan belajar.
D.   Penggunaan Teknologi Dalam Pendidikan Jarak Jauh
1)    Teks
Sebagai bahan ajar cetak berupa modul elektronik.
2)    E-Learing
Berupa audio conferencing dan video conferencing.

5.           STANDARISASI MULTIMEDIA
A.   Karakteristik Multimedia Pembelajaran
1)    Mempermudah penerimaan pesan
2)    Mengefektifkan pencapain tujuan
3)    Mempersingkat waktu pembelajaran
4)    Memberi kesenangan dalam belajar

B.   Prinsip Pengembangan Multimedia Pembelajaran
1)    Ketercapaian tujuan pembelajaran    
2)    Kesesuaian dengan karakteristik sasaran
3)    Ketepatan dengan jenis materi pelajaran
4)    Kesesuaian dengan latar (setting)
5)    Memberi “kesenangan” dalam belajar
C.   Unsur-Unsur Naskah Multimedia Pembelajaran
Naskah berisi petunjuk teknis produksi yang bersifat universal. Naskah mengandung unsur-unsur:
1)    Identitas:  Berisi,  Judul, Sasaran, Durasi, dan Nama Penulis, dll.
2)    Petunjuk Visual:  Berisi, Keterangan gambar dan Teknis Produksi, dll.
3)    Petunjuk Audio:  Berisi, Keterangan audio yg  meliputi: Narasi, Musik, FX, dan Teknis Produksi, dll.


D.   Indikator Penilaian Naskah Multimedia Pembelajaran
Penilaian naskah multimedia pembelajaran dilihat dari desain pembelajaran, perancang interface dan kelayakan dalam produksi.

1)    Unsur-Unsur Penilaian Desain Pembelajaran
§  Ketepatan media dengan tujuan pembelajaran.
§  Ketepatan media dengan materi pelajaran.
§  Kesesuaian media degan sasaran (pengguna).
§  Ketercapaian tujuan pembelajaran.


2)    Unsur-Unsur Penilaian Interface Multimedia Pembelajaran
§  Ketepatan visual dengan: tujuan pembelajaran, materi pelajaran, karakteristik sasaran (pengguna) dan latar (lingkungan sosial anak).
§  Fungsi animasi untuk: memperjelas materi pelajaran, merupakan bagian dari pesan, dan memberi daya tarik visual.
§  Audio: kesesuaian musik dengan program/ thema, kesesuaian musik dengan karakteristik sasaran, ketepatan narasi dengan visual,k esesuaian narasi dengan karakteristik sasaran dan kecukupan narasi dengan tujuan pembelajaran.
§  Fungsi Teks: sebagai materi pelajaran, memperjelas materi pelajaran, hanya bagian dari pesan/materi pelajaran dan sebagai pilihan bagi sasaran tertentu.
§  Fungsi Transisi: sebagai perpindahan dari opening ke program, sebagai perpindahan antar pesan, sebagai perpindahan antar sub-topik dan sebagai perpindahan dari program ke clossing.

3)    Unsur-Unsur Penilaian Kelayakan Produksi
§  Ketersediaan software & hardware pendukung.
§  Keterampilan yang cukup.
§  Ketersediaan dana & dukungan dari lembaga.
§  Tidak melanggar ketentuan yang ada.

6.           PENELITIAN BERBASI TIK DALAM PAUD
A.   Kawasan Penelitian TIK
1)    Computer Based Learning
2)    On-line Learning
3)    E-Learning
4)    Distance Learning
B.   Kelebihan Penggunaan TIK dalam Pendidikan
1)    Kelas tidak membutuhkan bentuk fisik.
2)    Program dapat di-update secara cepat.
3)    Interaksi dapat bersifat real time.
4)    Mengakomodasi seluruh proses belajar.
5)    Dapat diakses dari lokasi mana saja.
6)    Materi dirancang secara multimedia.
7)    Peserta belajar terhubung keseluruh perputakaan dunia.

C.   Kelemahan Penggunaan TIK dalam Pendidikan
1)    Buruknya perencanaan penggunaan sehingga tidak sesuai kebutuhan.
2)    Pengguna tidak mengenal secara baik sistem yang digunakan.
3)    Permasalahan bendwidth yang kecil.

D.   Hasil Penelitian Penggunaan TIK dalam Pendidikan
1)    Kualitas siswa jauh lebih baik dibanding.
2)    kelas kovensional.
3)    Siswa antusias mengikuti dan menyelesai.
4)    kan keseluruhan proses.
5)    Adanya tingkat kepuasan pada siswa.
6)    Siswa dpt menyelesaikan seluruh fungsi.
7)    sistem dengan baik.

SUMBER:
Bahan Ajar Mata Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi Dr. Robinson Situmorang.



Rabu, 06 Februari 2013

BAB 1 judul penelitian TIK pengaruh pola asuh orang tua dan tehnologi digital terhadap berat badan anak usia 4-5 tahun


BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Masa anak usia dini sering juga disebut golden age atau usia keemasan karena pada rentang usia ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat pada berbagai aspek. Begitu juga dengan perkembangan motorik anak. Pada usia ini badan anak masih begitu lentur dan mudah diarahkan ditambah dengan kesenangannya bereksplorasi dan seperti tak mengenal rasa takut, sehingga masa ini juga disebut usia penjelajah.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan keseluruhan proses pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurga, di Taman Kanak-Kanak dan Kelompok Bermain. Proses pendidikan merupakan kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam taman kanak-kanak, berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh anak didik sebagai peserta didik.

1
 
Pendidikan usia dini mengarah kepada anak yang akan mengenyam pendidikan disebut pra sekolah. Pada usia sekolah perlu ada pendidikan atau pengajaran baik formal maupun non formal. Pendidikan ini dikenal dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pelaksanaan pendidikan formal di Taman Kanak-Kanak berupaya melaksanakan proses pembelajaran yang salah satu tujuannya agar perkembangan motorik anak membaik.
            Pendidikan merupakan hak anak sebagai mana diatur dalam undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak yang menyataka bahwa:
Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari hal-hal yang bersifat kekerasan dan diskriminasi.”Salah satu implementasi dari hak anak ini adalah setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran yang layak dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasan anak sesuai dengan minat dan bakat anak[1].

Anak usia 4-5 tahun memiliki energi yang tinggi. Energi ini digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan fisik, baik yang berhubungan dengan kemampuan motorik kasar seperti berlari, melompat bergantung, melempar dan menendang, ataupun motorik halus seperti menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle, ataupun memilih balok. Dengan energi yang besar sekaligus semangat anak yang tinggi untuk bereksplorasi, maka segala gerakan yang diajarkan pada anak akan dianggapnya sebagai suatu permainan yang menyenangkan. Sehingga usia 4-5 tahun disebut juga masa bermain.
Kesempatan yang luas untuk bergerak, pengalaman belajar menemukan, aktivitas sensori motor yang meliputi penggunaan otot-otot besar dan kecil memungkinkan anak untuk memenuhi perkembangan perseptual motorik (Catron dan Allen dalam Yuliani, 1999:287-304)[2].
Bermain dapat memacu perkembangan perseptual motorik pada beberapa area, yaitu: (1) koordinasi mata-tangan atau mata-kaki seperti saat menggambar, menulis, memanipulasi objek, mencari jejak secara visual, melempar, menangkap, menendang; (2) kemampuan motorik kasar, seperti gerak tubuh ketika berjalan , melompat, berbaris, meloncat, berlari, berjingkat, berguling, merayap, dan merangkak; (3) kemampuan bukan motorik kasar (statis) seperti menekur, meraih, bergiliran, memutar, meregangkan tubuh, jongkok, duduk, berdiri, bergoyang, (4) manajemen tubuh dan kontrol seperti menunjukkan kepekaan tubuh, kepekaan akan tempat;keseimbangan;kemampuan untuk memulai, berhenti, mengubah petunjuk[3].
Pengembangan Motorik sangat memerlukan bantuan orangtua atau pembimbing untuk melatih dalam pertumbuhanya, sehingga potensi motirik anak bisa berkembang secara optimal. Gerak motorik baru bagi anak usia dini memerlukan pengulangan-pengulangan dan bantuan orang lain, pengulangan itu merupakan bagian dari belajar. Setiap pengulangan dalam keterampilan baru, memerlukan konsentrasi untuk melatih koneksitas dan koordinasi gerak dengan indera lainya (Papalia, 2001:144). Masih dalam konteks pengembangan motorik anak usia dini ini, juga perlu melihat dan mempertimbangkan kebuthan anak, dan ragam perbedaan pertumbuhan mental secara individual. Hal ini penting diperhatikan untuk memberikan layanan yang akomodatif. Terkait dengan pengembangan motorik ini, perlu juga diperhatikan kematangan motorik yang terjadi pada anak, baik motorik halus maupun motorik kasar. Kematangan ini merupakan hasil dari awal penstabilan yang dilakukan dari setiap penguasaan ketrampilan baru (Papalia,2001:140), secara skuensi (Seifert and Hoffnung, 1987:179).
Secara alami dan kondisi natural tak tersentuh teknologi seperti jaman dulu, kemampuan motorik anak akan berkembang secara normal dan biasanya tanpa masalah yang berarti. Tapi dengan kondisi kehidupan saat ini yang sudah sangat dimudahkan oleh teknologi, sistem komunikasi yang membuat semakin dekat dan mudah, permaina dan pembelajaran yang menggunakan teknologi. Maka banyak gerakan dan tenaga yang hemat pada anak-anak. Sehingga jika tanpa stimulus dari orang tua dan lingkungan terdekat, mungkin terjadinya keterlambatan kemampuan motorik yang akhirnya bisa menghambat potensi anak yang lainnya. Untuk itu diperlukan partisipasi orang dewasa, terutama sang ibu untuk menstimulus perkembangan motorik anaknya.
Hanya saja, karena tingkat kebutuhan dasar ataupun kebutuhan gaya hidup terus meningkat selama dekade ini, menyebabkan makin banyak wanita bekerja di luar rumah dan anaknya ditinggalkan bersama media elektronik.
Di Makassar khususnya Kabupaten Maros yg merupakan kota pembangunan merupakan kota yang sudah terkena teknologi dan informatika.
Penelitian ini dilakukan di daerah Kabupaten Maros Sulawesi-Selatan (Kota Makassar). Demikian juga gambaran keadaan di daerah sulawesi Selatan yang merupakan daerah agraris dimana sebagian besar orang tua disibukkan dengan aktivitas bekerja di luar rumah (di pabrik, kebun, kantor dll), sehingga tidak luput dari permasalahan yang diutarakan. Perhatian mereka terhadap putra-putrinya sangat kurang. Sehingga pembantu yang membantu para orang tua yang dihadapkan kepada permasalahan tersebut dengan harapan putra-putri mereka tetap merasakan adanya kasih sayang, keceriaan dan yang pasti mendapatkan kesenangan dan sebagian besar anak mereka mendapatkan kesenangan dengan menggunakan teknologi yang lumayan canggih.
Secara jarak tempuh daerah kabup[aten Maros sangat jauh dari pusat kota Makassar. Kondisi tronsportasi kota yang sangat macet semakin memperpanjang waktu tempuh dan jam ibu bekerja di luar rumah atau ketika ibu ingin menggarap sawah atau lahannya maka ibu sering keluar rumah pada waktu subuh dan balik jam 6 malam, maka ketika kita liat waktu untuk anaknnya, bisa diperkirakan bahwa sang ibu sudah brangkat sebelum anaknya bangun dan tiba di rumah ketika anaknya sudah kembali tidur, dengan kata lain waktu ibu dan anaknya sangatlah sedikit apalagi mengasuh anaknya pada waktu bekerja.
Jadi kapan waktu ibu untuk berinteraksi dan bermain dengan anak, kalau bukan pada saat libur akhir pekan bahkan waktu liburpun dipergunakan untuk kembali mengerjakan tugas kantor atau bagi yang d desa kembali tetap berkebun. Kuantitas akhir pekan ini pun juga bisa akan didiskon karena ibu juga harus mengurus hal-hal rumah tangga lain seperti berbelanja bulanan, kepasar, atau kegiatan-kegiata sosialnya misalnya pertemuan warga atau pertemuan keluarga. Kurangnya kualitas dan durasi pertemuan antara ibu dan anak secara fisik, dan akhirnya juga akan mengurangi pertemuan mereka tentunya sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak apalagi ketika anaknya disodorkan permainan yang menggunakan teknologi yang serba canggi sehingga mengurangi ruang gerak anak.
Sebagai daerah yang terdiri dariberbagai kompleks perumahan, sistemnya cenderung homogen secara ekonomi dan pendididkan tapi heterogen secara agama dan budaya. Dimana masing-masing keluarga karena kesibukan kegiatannya keluar rumah dan tidak jarang kita dapati seorang ibu yang menguncikan anaknya didalam rumah.
Dengan lingkungan perumahan yang individual, dunia masing-masing anak sedikit dan juga alasan keamanan. Akhirnya anak tidak mempunyai teman bermain, baik untuk bermain di dalam rumah, maupun diluar rumah. Sementara kondisi rumah yang berdekatan, dengan halaman yang terbatas, tidak memungkinkan anak untuk melakukan permainan yang membutuhkan ruang gerak yang banyak.
Dengan tidak adanya teman sebaya yang bermain didalam maupun diluar rumah, juga tidak adanya orang dewasa yang menemani anak bermain diluar rumah, maka ajang anak bermain dengan teman sebayanya yang dapat diandalkan adalah disekolah. Sementara kegiatan fisik dan bermain anak di sekolah  juga sangat terbatas dengan adanya kurikulum, yang pada umumnya lebih berorientasi pada perkembangan kognitif anak.
Sekarang ini mudah kita perhatikan keluarga yang memiliki masalah yaitu keluarga yang kedua orang tuanya bekerja dari pagi hingga malam. Sehingga tidak ada anggota keluarga yang bisa mengawasi pertumbuhan dan perkembangan anak selama orang tua pergi bekerja seharian. Juga tidak ada anggota keluarga yang bisa mengajak anak bermain, sesuai dengn usianya.
Sebaliknya ada juga ibu yang tidak bekerja tapi dengan situasi yang cukup sulit karenma tidak adanya orang lain selain dirinya dan anaknya dirumah, sehingga ia sendiripun sudah sangat kerepotan dengan urusan rumah tangga, termasuk dalam hal ini kepengurusan anak. Apalagi jika hal ini ditambah dengan kurang mengertinya mengenai masalah tumbuh kembang dan pendidikan anak. Yang pada akhirnya anak tetap tidak mempunyai teman untuk bermain sesuai dengan kebutuhan usianya.
Selain itu ditambah dengan adanya anggapan masyarakat umum bahwa tumbuh kembang anak adalah sesuatu yang alamiah sehingga dengan adanya pembantu/pengasuh, sekolah yang bernuansa agama, dan keikutsertaan less tambahan sudah mencukupi kebutuhan pendidikan anak mereka. Sehingga tanpa disadari terjadilah hand over tanggung jawab orang tua pada lembaga terkait untuk masalah tumbuh kembang anak. Untuk mendapatkan penilaian bahwa anak mereka berhasil indikatornya adalah anak yang berprestasi secara akademis, yang biasanya berupa laporan berisi aspek-aspek kognitif dari sekolah anak.
Karena keterbatasan kondisi tersebut, tidak heran banyak anak usia TK sudah brangkat ke sekolah jam 7 pagi dan pulang jam  5 sore, karena setelah pulang dsekolah jan 1 siang kegiatan mereka dilanjutkan dengan les-lesyang umumnya terdiri dari les yang meningkatkan kemampuan kognitif, seperti les membaca, les menulis, matematika, bahasa inggris ataupun kursus yang meningkatkan kreativitas anak seperti kursus menari atau kursus mewarnai.
Karena hal tersebut di atas, maka bagi orang tua yang tidak mengikut sertakan anaknya les, ataupun pada hari dimana anaknya tidak ada jadwal les, mereka sangat “terbantu” dengan adanya perkembangan teknologi karena anaknya bisa bermain game atau permainan digital sehingga anaknya tidak perlu kemana-mana dan hanya tinggal di rumah. Tanpa menyadari sebenarnya banyak hal buruk  yang ditimbulkan oleh permainan-permainan tersebut.
Menonton TV, permainan komputer membuat anak kurang bergerak, menimbulkan kegemukan dan penurunan keterampilan motorik kasar ataupun kecerdasa kinestetik anak. Atau lebih jauh lagi akan timbulnya beberapa penyakit persendian yg muncul setelah anak semakin besar, karena posisi yg sama dalam waktu yang cukup lama.
OBESITAS pada anak sudah mencapai taraf epidemi di banyak negeri. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa di seluruh dunia terdapat kira-kira 22 juta anak di bawah usia lima tahun yang kelebihan berat badan. Sebuah survei nasional di Spanyol menyingkapkan bahwa 1 dari setiap 3 anak kelebihan berat badan atau obes. Hanya dalam waktu sepuluh tahun (1985-1995), obesitas pada anak naik tiga kali lipat di Australia. Dalam tiga dasawarsa terakhir, obesitas pada anak berusia 6 hingga 11 tahun meningkat lebih dari tiga kali lipat di Amerika Serikat.
Obesitas pada anak juga dialami negara-negara berkembang. Menurut Satuan Tugas Obesitas Internasional, di beberapa bagian Afrika, ada lebih banyak anak yang mengalami obesitas ketimbang malnutrisi. Pada tahun 2007, Meksiko menempati urutan kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, untuk obesitas pada anak. Konon di Mexico City saja, 70 persen anak dan remaja kelebihan berat badan atau obes. Ahli bedah anak Dr. Francisco González memperingatkan bahwa generasi ini mungkin adalah ”generasi pertama yang akan mati sebelum orang tua mereka akibat komplikasi obesitas”[4].
B. IDENTIFIKASI MASALAH

            Berdasarkan latar belakan masalah tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui : Bagaimana perkembangan motorik anak dengan kondisi perumahan dan persawahan , yaitu dengan kondisi kurang atau tidak adanya teman bermain sebaya? Bagaimana perkembangan motorik anak dengan kondisi rumah tidak ada orang dewasa yang membimbing mereka bermain sesuai dengan usianya?Bagaimana perkembangan motorik anak menghadapi era serangan teknologi digital? Bagaimana menghadapi masalah obesitas pada anak akibat serangan permainan teknologi digital? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi motorik kasar anak? Apakah ada hubungan berat badan anak dengan kemampuan motorik anak? Bagaimana kemampuan dasar motorik anak untuk melakukan permainan misalnya kemampuan berlari?Bagaiman pola bergerak anak yang cenderung individual dan statis terhadap kemampuan motorik anak? Bagaimana cara agar anak-anak bergerak? Bagaimana cara meningkatkan kemampuan motorik anak? Bagaimana agar anak sehat, bugar dan tidak mengalami obesitas?


C. PEMBATASAN MASALAH
Dari sekian banyak masalah yang teridentifikasih, karena pada usia 4-5 tahun syaraf-syaraf yang berfungsi untuk mengontrol gerakan motorik sudah mencapai tahap kematangannya[5], dimana tahap perkembangan gerakan dasar motorik kasar pada usia 4-5 tahun sudah berada pada tahap matang pada tungkainya,[6] maka ruang lingkup penelitian yang diteliti dibatasi pada masalah Pengaruh Pola Asuh Orang Tua danTeknologi Digital Terhadap berat badan pada anak usia 4-5 tahun, pada siswa kelas A di RA Al – Irsyad Dg Naba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Baik laki-laki maupun perempuan yang berusia antara 4 (empat) sampa 5(liam) tahun, yang memiliki karakteristik umum seperti sama pada perkembangan motorik kasarnya. secara operasiona penelitian ini melibatkan dua variabel bebas, yaitu (1)Pola Asuh Orang tua dan (2)Teknologi Digital dan satu variabel terikat yaitu Berat Badan anak usia 4-5 tahun.
D. RUMUSAN MASALAH

1.    Apakah terdapat pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap berat berlari anak usia 4-5 tahun pada anak Anak kelas A di RA Al – Irsyad Dg Naba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan?
2.    Apakah terdapat pengaruh antara Berat Badan anak dengan teknologi Digital anak usia 4-5 tahun?
3.    Apakah terdapat Pengaruh antara  Pola Asuh Orang Tua Dan Teknologi Digital  terhadap  berat badan anak, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama pada anak usia 4-5 tahun?

E.  KEGUNAAN PENELITIAN

1.    Untuk mengetahui ada tidaknya pengaru pola asuh orang tua dan teknologi digital terhadap berat badan anak, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama dengan anak Anak kelas A di RA Al – Irsyad Dg Naba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan?
2.    Jika kedua variabel tersebut mempunyai hubungan positif bisa dijadikan sebagai acuan dan informasi kepada orang tua akan kebutuhan dasar anak  untuk bergerak, mengatur pola kegiatan fisik anak dan meningkatkan kemampuan motorik kasar anak, serta pola makan (gizi) anak.
3.    Sebagai data informasi kepada para orang tua dan dapat mengembangkan sumber daya ibu-ibu yang tidak bekerja untuk membantu anaknya dalam perkembangan motorik kasarnya atau membantu anak agar kebutuhan geraknya tercapai.



[1]Nanda. 2007. UU Perlindungan Anak, Benarkah Melindungi Anak?. Dalamhttp://qathrunnadacom.multiply.com. Diakses tanggal 7 Januari  2013pukul 04.02 pm
[2] Yuliani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Din (Jakarta:PT Indeks, 2009) hal.63-64
[3] ibid
[4] Ine Mahardikawati, Obesitas Pada Anak,”Media Sehat.com, Minggu 30 Desember 2012.
[5] Martinis Jamaris, Perkembangan Dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak, Grasindo, 2006,h. 10
[6] David L. Gallahue, John C. Ozmun, Motor Development, McGraw Hill,Undestanding Motor Developmen, McGraw Hill, International Edition, 2006, 4th edition, h.311

ppt tugas 2 individu

tugas 2 individu SKH


SATUAN KEGIATAN HARIAN (SKH)


KELOMPOK                                           Kelompok                           :        A
SEMESTER /                                         Semester/Minggu             :        II / XV
TEMA / SUB                                          Tema/subtema                   :        ALAM SEMESTA / BINTANG

HARI / TGL
KEMAMPUA/
INDIKATOR
KEGIATAN PEMBELAJARAN
ALAT DAN SUMBER BELAJAR
PENILAIAN
ALAT/
TEHNIK
PERKEMBANGAN ANAK
S
E
N
I
N

J
A
N
U
A
R
I

2
0
1
3


Ø Mentaati peraturan yang ada


Ø Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan (M)
Ø  Menyanyi lagu pendek sesuai irama (S)
Ø  Mendengarkan cerita pagi (B)
   I.        Pembukaan

Ø Senam sebelum masuk kelas
Ø Berbaris di depan kelas
Ø Berdo’a, salam


Ø Menyanyi lagu “Bintang Kecil”

Ø Tanya jawab tentang langit


·    Anak

·    Anak

·    Anak


·    Gambar Bintang

 Anak


Observasi

Observasi

Observasi


Observasi


Tanya   jawab



Ø Membilang 1-5(K)


Ø Memerankan sesuatu (B)

Ø Membedakan Besar Kecil  (K)
 II.        Inti

Ø Menghitung Bintang


Ø Bermain peran sebagai fotografer

Ø Membedakan Bintang Besar Dan Kecil


 Anak


 Anak


Gambar Bintang


Observasi


Bermain peran

Unjuk kerja


Ø Berdo’a  sebelum dan sesudah kegiatan (M)
Ø Menentukan kegiatan sendiri (SE)
III.        Istirahat

Ø Berdo’a,Makan, Cuci tangan

Ø Bermain bebas di luar ruangan


 Air, serbet, bekal anak
 Anak, APE


 Observasi


Unjuk kerja


Ø Menyampaikan pertanyaan lebih lengkap (B)

Ø  Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan (M)
IV.        Penutup

Ø  Tanya jawab (evaluasi)


Ø  Berdo’a, salam, pulang


 Anak langsung


Anak langsung


Tanya jawab


Observasi